Rapat Kerja Dengan Menko, Anggota DPR RI Nevi Ingin Kurangi Angka Pengangguran - Patroli Informasi

Breaking

Kamis, 13 Juni 2024

Rapat Kerja Dengan Menko, Anggota DPR RI Nevi Ingin Kurangi Angka Pengangguran



PATROLINFORMASI.COM - Anggota DPR RI Komisi VI Nevi Zuairina mengungkapkan pentingnya pengurangan pengangguran melalui penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta kebijakan investasi yang tepat sasaran.


Hal itu disampaikan Nevi Zuairina dalam rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR RI yang melibatkan Kemenko Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi.


Dalam pidato Menteri Keuangan terhadap pandangan fraksi-fraksi terhadap KEM-PPKF 2025, disepakati bahwa insentif perpajakan sebagai bagian dari insentif fiskal. instrumen penting dalam memberikan stimulus ekonomi dan mendukung kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.


Nevi menegaskan bahwa insentif fiskal harus dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing sektor, termasuk penguatan UMKM.


"Peran pemerintah sebagai trade facilitator dan industrial assistance harus memperhatikan dukungan terhadap seluruh UMKM, bukan hanya yang berorientasi ekspor. UMKM harus didorong produktivitasnya melalui berbagai insentif dan pendampingan," ujar Nevi Zuairina.


Nevi juga menekankan pentingnya dukungan terhadap generasi muda dalam membangun UMKM, mengingat bonus demografi yang akan datang. "Terutama, kita harus mendukung Gen Z untuk membangun dan mempelopori UMKM," tambahnya.


Dalam pertemuan tersebut, Nevi Zuairina mempertanyakan alokasi anggaran pemerintah untuk UMKM baru atau startup dibandingkan dengan yang sudah berorientasi ekspor.


"Pemerintah harus memberikan perhatian yang seimbang, memastikan bahwa seluruh UMKM, termasuk yang baru berdiri, mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk berkembang," katanya.


Pemerintah juga berencana membuat kebijakan teknis sebagai turunan dari kebijakan umum perpajakan, termasuk memberikan insentif fiskal yang terarah untuk meningkatkan iklim investasi.


Insentif ini ditujukan pada sektor-sektor usaha dengan nilai tambah tinggi, yang dapat mendorong penyerapan tenaga kerja dan mendukung pengembangan ekonomi hijau, termasuk untuk UMKM.


Nevi Zuairina mencatat bahwa meskipun realisasi investasi di Indonesia selama empat tahun terakhir mencatat angka yang mengesankan, tapi aliran investasi tersebut belum berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi.


"Investasi yang masuk ke Indonesia, meskipun besar, tidak membuat pertumbuhan ekonomi kita tumbuh kencang," katanya, mengacu pada data dari tahun 2014 hingga 2023.


Nevi menjelaskan bahwa banyak investor yang masuk ke Indonesia lebih fokus pada sektor padat modal yang menggunakan teknologi canggih dan robot, sehingga tidak membuka banyak lapangan kerja.


"Investasi di sektor seperti smelter, pabrik baterai, dan pabrik mobil tidak membutuhkan banyak pekerja," jelas Nevi Zuairina.


Nevi Zuairina meminta pemerintah transparan mengenai porsi investasi yang masuk ke program padat karya dan padat modal, serta seberapa banyak investasi tersebut telah membuka lapangan kerja.


"Kita perlu transparansi dari pemerintah terkait hal ini untuk memastikan investasi yang masuk benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," tegasnya.


Nevi juga mengkritik pemerintah yang dinilai cenderung melupakan industri padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja baru, seperti industri tekstil, sepatu, dan mebel.


"Industri ini memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mengkapitalisasi PDB," tambahnya.


Untuk itu, Nevi menekankan pentingnya dukungan menyeluruh terhadap UMKM dan industri padat karya untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


"Kita harus memastikan bahwa kebijakan investasi dan insentif fiskal benar-benar bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama dalam menciptakan lapangan kerja baru," pungkasnya.(**)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar